Wednesday, August 3, 2011

Islamic Worldview 2


Penglihatan secara islami dari kenyataan dan kebenaran, yang mana merupakan survey metafisik dari dunia yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat termasuk sudut pandang dari kehidupan secara keseluruhan, bukan cara pandang dunia yang dibentuk oleh sekedar berbagai  objek, nilai, dan fenomena budaya yang dikumpulkan menjadi keselarasan buatan. (yang saya maksud dengan keselarasan buatan, keselarasan yang tidak alami didalam yaitu yang dimasksud dengan fitrah. Keselarasan tersebut diproyeksikan sebagai cara pandang hidup harus untuk disesuaikan dengan perubahan lingkungan). Bukan pula cara pandang yang dibentuk secara perlahan melalui proses sejarah dan perkembangan terhadap perkiraan filosofis dan penemuan ilmiah, yang harus untuk ditinggalkan secara umum dan selalu berpikir terbuka untuk perubahan di masa depan dan pergantian secara waktu dengan paradigm yang mengubah secara berpasangan dengan perubahan kondisi. Hal tersebut bukanlah cara pandang yang berjalan dengan proses dialektikal dari transformasi yang berulang melalui setiap zaman, dari setiap tesis kemudian antithesis hingga sintesis yang bergabung ke satu sama lain, cara pandang tersebut yang berdasar pada system dari pemikiran yang berpusat pada ke-Tuhanan dan kemudian perlahan menjadi berpusat pada dunia -Tuhan, dan kemudian sekarang menjadi berpusat pada ke-duniaan dan mungkin akan berpindah lagi hingga membentuk tesis baru dalam proses dialektis.
Cara pandang tersebut berubah seiring dengan umur ideologis yang dicirikan oleh pengaruh dominan dari system pemikiran yang penting dan berlawanan, yang membawa pemahaman berbeda dari cara pandang dunia dan system nilai seperti apa yang telah terjadi dan akan berlanjut untuk terjadi di dalam sejarah dari budaya, agama, dan Inteletual di Barat. Belum ada dalam sejarah budaya, agama, dan tradisi intelektual dalam islam yang membedakan zaman yang dicirikan oleh system pemikiran yang sedang berkuasa yang berdasar atas materialism atau idealism, yang didukung oleh pendekatan bersamaan metodologis yang mendekati dan menempatkan empirisme, rasionalisme, realism, nominalisme, pragmatism, positivisme,positivisme logika, kritisme, yang bergantian diantara zaman dan masuk satu sama lain setelah yang lainnya masuk ke zaman kita. Perwakilan dari pemikiran Islam- ahli teologi, filosof, dan ahli metafisika- mempunyai semua dan secara sendiri-sendiri menerapkan berbabgai metode dalam penelitian tanpa adanya dominasi pengaruh salah satu metode tertentu.kesemuanna bergabung dalam penelitian mereka, dan pada saat yang sama dalam diri mereka, metode empiris dan rasional, deduktif dan induktif, dan tanpa melakukan pembedaan antara subjektif dan objektif sehingga mereka semua dipengaruhi oleh apa yang saya sebut sebagai metode tawhid dalam pengetahuan.

No comments:

Post a Comment